Gerakan dalam Hening


Kamis itu, saya sengaja datang memenuhi undangan Kepala SLB Negeri Pangkalpinang.  Pada bagian hal surat, cuma tertulis “undangan”.  Namun, pada awal surat terbaca jelas alasan yang dijadikan dasar undangan, yaitu peringatan Hari Disabilitas Internasional.  Meski datang terlambat hampir satu jam dari isi surat undangan, ternyata saya belum terlambat mengikuti acara-acara ini karena pas saya duduk, persembahan seni sebagai opening performance baru saja dimulai. Saya tertegun, suara hiruk pikuk di belakang tidak mengganggu untuk menikmati persembahan anak-anak di panggung itu.  Personil yang tampil berjumlah lebih kurang belasan orang. Jumlah pastinya aku tidak tahu persisi karena memang tak sempat kuhitung.  
Bentuk lain materi tampilan seni yang diturunkan adalah tarian yang diberi judul “Bujang Pesisir”.  Bujang, dalam bahasa Melayu Bangka adalah sebutan atau panggilan untuk anak laki-laki atau pemuda. Pesisir sendiri berarti daerah atau kawasan tepi laut/pantai. Jadi, bujang pesisir berati pemuda yang berasal atau hidup di daerah pantai.  Tarian yang dipersembahkan oleh dua orang pemuda ini berkisah tentang dua orang pemuda yang turun ke laut untuk mencari ikan buat dijadikan lauk makan.  Ini menjadi gambaran umum atau biasa dilakukan kaum laki-laki khususnya pemuda dalam membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kedua penari tampak mengenakan pakaian berwarna kuning keemasan.  Warna khas melayu yang melambangkan keagungan atau kemuliaan.
Pakaian dengan model tanpa lengan dengan selendang atau kain yang dilingkari di pinggang tampaknya ingin menggambarkan kelincahan dan dinamika gerak sesuai dengan gerak tari itu sendiri. Hal ini pun didukung dengan kostum bawahan model celana bercorak batik.
Dengan isyarat khusus kedua penari memasuki arena tarian. Lalu bergerak menari.  Kadang keduanya memutar, bergerak menyamping atau bergerak seolah-olah sedang menangkap ikan. Gerakan yang dinamis dan ritmis senada dengan musik pengiringnya.
Bagiku, ada yang luar biasa yang kusaksikan saat tarian itu dipersembahkan.
Mungkin para undangan sendiri ada yang merasa takjub. Bagaimana tidak, tari tersebut dipersembahkan oleh anak-anak penyandang tuna rungu. Ya, suatu karya dan kerja yang kreatif yang bagi orang awam sendiri, masih sulit mencari-cari jawaban bagaimana memproses dan melatih anak-anak tersebut sehingga mampu mempersembahkan sebuah sajian tarian dengan gerak yang ritmik dan dinamis diiringi alunan musik yang hanya dapat didengar oleh para penonton.
Berikutnya, aku mulai fokus pada anak-anak lain yang tampil.  Kali ini yang tampil grup paduan suara. Mereka mengenakan pakaian khas melayu berwarna ungu. Setelah sedikit persiapan, berkumandanglah sebuah lagu yang pernah dipopulerkan oleh grup band D’masiv, “Jangan Menyerah”. Sebuah lagu yang mengundang motivasi, mencoba menyadarkan hakikat diri kita sebagai manusia yang pada hakikatnya selalu memiliki kekurangan.  Tak ada manusia yang terlahir sempurna.... demikian lagu tersebut di awali. Entah mengapa ada nuansa lain yang bikin merinding dan sangat berbeda, saat lagu tersebut dilantunkan oleh anak-anak disabilitas ini. Ada suasana kosong, hampa saat syair lagu tersebut dinyanyikan. Lalu, muncul harapan kesadaran akan kuasa Ilahi yang menantang kita untuk tidak menyerah hanya karena keterbatasan yang dimiliki.  Sungguh sebuah lagu yang sangat menggugah dan mengena untuk acara yang memang khusus dedikasikan kepada mereka yang ditakdirkan berbeda dengan yang lainnya. 
Tuhan memang Mahakuasa.  Hanya Ia yang tahu hikmah di balik kemaharahasiaan keadaan diri dan kehidupan. 

Jangan Menyerah
Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah
Dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini
Tak ada artinya lagi
Reff 1:  Syukuri apa yang ada
             Hidup adalah anugerah
             Tetap jalani hidup ini
             Melakukan yang terbaik
Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi
Reff 2:  Tuhan pasti kan menunjukkan
              Kebesaran dan kuasanya
              Bagi hambanya yang sabar
              Dan tak kenal putus asa
                                    dmasiv

Komentar