Mercuasuar Tanjung Kalian adalah sebuah menara suar yang berada di Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Letaknya di tepi Pantai Tanjung Kalian Muntok yang berjarak lebih kurang enam kilometer dari pusat Kota Muntok. Bila dihitung dari Kota Pangkalpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mercusuar Tanjung Kalian ini jauhnya sekitar 140 kilometer. Namun, Anda tidak perlu khawatir, untuk sampai ke sini, Anda akan melewati jalan yang relatif bagus dengan waktu tempuh lebih kurang dua setengah jam perjalanan dari Pangkalpinang.
Menurut sejarah,
mercusuar ini dibangun oleh Belanda pada tahun
1862. Ini berarti usianya sudah 158
tahun. Sungguh usia yang cukup tua. Fungsi utama mendirikan mercusuar Tanjung
Kalian adalah menara pengamat bagi para nahkoda yang hendak berlayar. Konon, sebelum berlayar, para nakhoda akan
memantau kondisi laut dari puncak mercusuar yang dapat memantau ke arah alaut
sejauh lebih kurang 40 mil dari puncak menara.
Selain itu, di puncak mercusuar Tanjung Kalina ini terdapat lampu navigasi
yang menyala terang terutama pada saat malam hari. Cahaya lampu mercusuar yang terang ini akan
berputar dan menembus kegelapan malam menuju ke arah laut. Cahaya inilah yang menjadi pedoman navigasi
penting bagi nakhoda kapal saat melintas di sekitar perairan Muntok saat malam
hari.
Tinggi Mercusuar Tanjung
Kalian adalah 65 meter dan dicat dengan warna merah dan
putih. Bentuk dan struktur bangunannya masih
asli. Bahkan belum pernah dipugar sama sekali. Namun begitu, kondsi bangunan
masih sangat kokoh dan selalu dirawat dengan baik, termasuk dengan melakukan
pengecatan ulang pada menara maupun bangunan pendukung di sekitarnya. Untuk sampai ke puncaknya, kita harus
melewati enam belas lantai. Dari lantai
satu ke lantai lainnya diantarai oleh sejumlah anak tangga beton. Jadi, untuk
sampai ke atas ada ratusan anak tangga beton yang harus kita lewati. Sebelum sampai puncak mercusuar, masih ada
dua lantai terakhir berupa tangga kayu yang harus kita lewati. Setelah itu, kita akan sampai di puncak
mercusuar yang menyerupai balkon selebar lebih
kurang setengah meter. Balkon yang diberi pagar pengaman dari besi
setinggi 50 cm ini mengelilingi puncak utama mercusuar.
Pengunjung yang
ingin naik ke puncak mercusuar akan dikenai biaya administrasi sebesar Rp5.000,00.
Untuk maksud tersebut, pengunjung harus mempersiapkan kondisi tubuh dengan
sebaik-baiknya karena ada delapan belas lantai dan ratusan anak tangga yang
harus dilewati. Untuk mengurangi rasa
lelah saat menaiki menara, Anda dapat beristirahat di setiap lantai yang Anda
lewati. Pada setiap lantai ini terdapat
lubang sirkulasi udara dengan diameter 30 cm. Lubang ini sengaja dibuat pada
setiap lantai sebagai lubang sirkulasi.
Dari puncak
mercusuar, kita akan disajikan pemandangan indah di sekitar mercusuar. Dari sini, Anda dapat melihat pemandangan ke
arah laut. Apabila sedang dalam kondisi
baik, Anda juga dapat melihat dengan samar-samar daratan Pulau Sumatera di
kejauhan. Di sisi kiri, Anda juga dapat
melihat aktivitas orang-orang dan kapal penyeberangan di pelabuhan Muntok. Bahkan, sebagian Kota Muntok dan Bukit Menumbing dapat terlihat dari
puncak mercusuar kuno ini.
Menurut sejarah, bangunan dan menara mercusuar Tanjung Kalian ini pernah diambil alih oleh tentara Jepang dari tangan Belanda. Setelah merdeka, menara suar ini dikendalikan dan dioperasikan oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Saat ini mercusuar
Tanjung Kalian telah menjadi salah satu cagar budaya peninggalan kolonial
Belanda. Selain berfungsi untuk navigasi pelayaran, mercusuar Tanjung Kalian,
bangunan pendukungnya, dan areal mercusuar menjadi objek wisata yang sangat
menarik di kota Muntok. Secara umum
kondisinya cukup bersih dan terpelihara.
Karena itu tidak mengherankan kalau cagar budaya ini sering dikunjungi
oleh banyak wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan luar
negeri. Selain itu, mercusuar ini tidak
jarang dijadikan objek atau praktik penelitian dan evaluasi baik dari aspek
kesejarahannya maupun dari aspek konstruksi bangunan. Hal ini mengingat,
bangunan kuno ini masih tetap berdiri kokoh meskipun dibangun sejak zaman penjajahan
Belanda.
Bagi Anda yang tidak berniat untuk naik ke puncak
menara, Anda cukup menikmati struktur bangunan menara dan bangunan pendukung
lainnya ataupun menikmati pemandangan di sekitar di depan bangunan menara. Kebetulan di depan menara ini terdapat areal yang
cukup luas sehingga cocok untuk bermain atau memarkirkan kendaraan. Warga lokal
biasanya lebih senang menikmati keindahan pantai pada petang hari. Terutama pada saat menunggu waktu berbuka
puasa. Bila berkunjung pada pagi hari,
Anda tidak terlalu khawatir kepanasan, karena di sekitar pantai banyak berdiri
pohon ketapang besar yang membuat pantai terasa lebih teduh.
Pada hari-hari biasa, ada banyak pedagang kuliner khas Muntok yang
berjualan di sekitar pantai. Makanan khas yang biasa ditemukan adalah otak-otak
panggang, sejenis satai yang dibuat dari campuran daging ikan, sagu, dan rempah
yang dibuat khusus. Suasana senja yang
romantis, sinar matahari menjelang malam dengan latar mercusuar dan bangunan bersejarah
peninggalan masa lalu sungguh merupakan kombinasi orkestra alam yang sungguh
eksotik dan indah yang sulit dilupakan.

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas segala respon sahabat semua.